Catatan Musafir

Teruntuk mereka yang mencari Mawaddah (kasih), Sakinah (ketentraman) dan Rahmah (sayang) dalam Keluarga.

Bismillahirrahmaanirahiim

Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan-pesan Al-qur'an tentang tujuan hidup yang sebenarnya

Nasehat ini untuk semuanya ...........
Untuk mereka yang sudah memiliki arah.........
Untuk mereka yang belum memiliki arah.........
dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
nasehat ini untuk semuanya.......
Semua yang menginginkan kebaikan.

Saudaraku,
Nikah itu ibadah . . .
Nikah itu suci . .
Ingat itu......
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan yang utama
Karena engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Saudaraku,
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta . .
Namun, jika cinta engkau jadikan sebagai landasan maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan utama rumah tanggamu
Niscaya engkau akan selamat
Tidak saja dunia, tapi juga akhirat. . .
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan. . .
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Saudaraku,
Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu"
Disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhanmu
Jika ini kau lakukan " istanamu " tidak akan langgeng
Lihatlah manusia teragung yaitu Muhammad SAW....
Tidak marah ketika harus tidur di depan pintu,
Beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya.
Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar........
Menjahit bajunya yang robek........

Saudariku,
Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu "
Disayang, dimanja dan dilayani suami
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu
Jika itu engkau lakukan " istanamu " akan menjadi neraka bagimu

Saudaraku,
Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu.........
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu......
Jika itu engkau lakukan akan celaka....
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
Tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah.....
Lihatlah bagaimana Allah menegur " Nabi "-mu
Tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena menuruti kemauan sang istri.
Tegaslah terhadap istrimu
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah.......
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang.....
Istrimu bisa menjadi musuhmu
Didiklah istrimu. . .
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya
Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad saw menerima tugas risalah
Istrimu adalah tanggung jawabmu....
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah.....
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah....
Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam........
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...

Saudariku,
Jika engkau menjadi istri.........
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu......
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah......
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami.....
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya....
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....
Jika itu kau lakukan.....
Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka
JANGAN….

Saudaraku,
Jika engkau menjadi Bapak......
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah..........
Ajaklah mereka taat kepada Allah.......
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti.......
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat.......
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.
Mohonlah kepada Allah..........
Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih.....
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Saudariku........
Jika engkau menjadi ibu....
Jadilah engkau ibu yang bijak, ibu yang teduh....
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu....
Jadikanlah mereka mujahid.........
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah.....
Jangan biarkan mereka bermanja-manja.....
Jangan biarkan mereka bermalas-malas..........
Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih....
Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam.

AMIN.

Sumber :  http://www.facebook.com/pages/Izinkan-Aku-Menikah-Tanpa-Pacaran/124803064261837
Read More …

Puji syukur kupanjatkan kepadaMu Ya ALLAH.Yang telah menciptakan alam luas sehingga aku dapat menikmati keindahannya.


Shalawat berangkai salam untuk idola sejatiku Rosulullah SAW.Yang telah memberi contoh tauladn untuk senantiasa bersyukur atas anugrah nikmatNya.

DUHAI ALLAH betapa indahnya kau ciptakan mata ini,yang dengannya aku dapat melihat segala keindahan ciptaanMu.

WAHAI ALLAH betapa indah kau ciptakan hidung ini dilengkapi dua lubang dibawahnya,yang dengan ini saya dapat mencium apa yang Kau halalkan, terlepas dari apa yang Kau haramkan.

WAHAI ALLAH betapa indah kau ciptakan bibir ini,sehingga dengannya aku dapat makan,minum dan mengecup apa yang Kau halalkan, terlepas dari apa yang kau haramkan.

WAHAI ALLAH betapa indah kau ciptakan telinga yang keriput ini,yang dengannya aku dapat mendengar serta mengambil hikmah, terlepas dari apa yang diharamkan.

WAHAI ALLAH betapa dahsyatnya Kau ciptakan kepala ini disertai otak.Sehingga dapat berfikir apa apa yang bermanfaat, terlepas dari apa yang tidak bermanfaat.

WAHAI ALLAH betapa dahsyat segala yang Kau ciptakan sehingga dengan ini aku dapat mengambil hikmah,bahwa ada Engkau dibalik semua PENCIPTAAN.

DUHAI ALLAH apabila dalam kehidupan masa laluku ada yang tidak Kau ridhoi,aku mohon berikanlah pintu maafMu, karena tiada lagi yang mampu memaafkan selain Engkau.

DUHAI ALLAH andai ada kebaikan dimasa lalu dan sekarang,aku minta agar aku dapat melupakan semuanya, karena tiada kebaikan kecuali datang dari Engkau.untuk menjaga amal kebaikan menujuMu.

DUHAI ALLAH sertailah kehidupanku,jadikanlah aku hambaMu,yang dapat menerima hidayah dan rahmatMu, sehingga aku jadi manusia yang bermanfaat untuk sesama dimanapun aku berada.
Read More …

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakakatuh.
Reje, aku si bercerakni ari doa sempenani perang, mu pangkal kerje, mu sukut nge kamul ralik juelen. Wali porak, wali sejuk. Cabang nge murai cabang, ranting nge mu nangon ranting. Biak gip/jarak, biak dekat si nguk iperin rempak nge bilang ré, susun nge bilangni  belō. Gere né ara si taring maring.
Reje, risik urum kōnō mokot di nge araé ari Rekel, turun ku entah, ari entah turun ku muyang, ari muyang renye awan, renyel ku ama, ari ama barō sawah ku kite besilō ni. Si nguk iperin nge mucap ku atu mulabang ku papan.
Reje,ari awal ni buet si katan serah merah. Selangkan ara kené ure-ure, opat ganyil lime genap. Si kerōh kén inōm, si jernih kén pembasōh. Beta kata olehte. Nunung edete kati sah kerje mungerje jemen pudaha.
Reje,lahir buah até jantung rasa, pertama iturun manin, kedue ikhitanen, ketige iserahen ku ama guru, ke empat warusé berwajib, ringenné berberet.
Reje, wan kemuduk ni lō ni, kin cicō ni manuk, kin kelik ni kalang, ari bulet ni pakat, tirus ni genap, nge le kami denangen alasé, nge le kami cecèpen ken belō si munōn pitué.
Reje,kusisun kire pora ike bedalil ku edet te, si malé kén biak teni. Nume si bergeral datap ari Batak, nume si bergeral ranup ari Aceh, nume sirih ari Melayu, tapi bergeral belō ari Gayo kampunge……
Reje, bersesèrènèn kite ku amal tidur nipi jege, kire gere musier, gere muhali, gere mupolok, gere muliki, singuk kite perin mampat urum belangi insa Allah buge betami kasé agamaé pé, urum budi pekertiè, buge lepas kasé kén alang tulung berat bantunte.
Reje, kén sarat yakin tene kuet, sarat denem tene muninget. Kami nahen ku tenumpit ni Reje, beras padi tungket imen, pinang ari si mutampōké, belō wan rudang, mayang ari Serudang, kapur kacu bunge lawang, konyel pe ari uten oya peserinen ne munangoé, iringi sara rilah ringit tene idung, bertetunung tali puter tige.
Reje, kur semangat, kami jurahan sara mungkur uten, wih muter si gere mera kering, lopah tejem si musembilue, kati iyèlès ni Reje kén pangir mutuju, buge pulih zet, pulih sipet, pulih nyawa, pulih tubuh, pulih anggota tujuh. Ike si bise buh tawar mi, ike si mugah buh magih mi, sejuk peruntungen né, gelah mudah rejekié.
Reje, kite manat petenahi mulo ipakni, iejermarahi, kati wé kasé remalan enti begerdak, mujurah enti munyintak, becerak enti sergak urum bubak, buh gelah lagu santan mulimak i bébéré, tikel berbunge i delahé.
Reje, oya wa tose si nguk kunahen ku sarak opat, reje si musuket sipet, imem si muperdlu sunet, petue musidik sasat, rayat genap mupakat. Reje mubanta, imem mulebe, petue musekolat, maap ku kaum biak urum sudere si ara wan batang ruang ni.
Wasalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu
Jeweben Sarak Opat
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu
Sudere-sudere rawan banan, kul kucak, tue mude, tuen rintah bebèwèné si isienni. Kami belesen bang pora keranante, perang mupangkal, kerje musukut seni. Utang si opat, warus berwajib, ringen berberet, nge sawah hat inge é. Bade kuyu remalan gere tersesilun, uren topan wih mugemboyah gere terampōn, buette turah wa mujadi, edet ni Reje turah wa ilalui.
Ari bulet ni pakat, tirus ni genap. Ratip musara bilang belō, si berat nge ringen, si naru nge konot, si nyanya nge temas, si bise nge tawar, si mugah nge magih, si jarak nge dekat, enta kune galakte enti muselpak, ayunte enti mupolok. Alhamdulillah ike bededelé urum bererami, ike atas pé bur, tuyuh ni tapak, ike lues pé langit lepas kite tangak.
Si sawah ni perang, mupangkal kerje musukutné, kami èngon ku edet, kami dema-dema kuatur, kami simak-simak kuresam, insa Allah kami pé nge paham. Ike narue nge kite éngon ku ines, ke tungku èngon ku tau, ike sisir èngon ku awal, ike mata èngon ku pelu, ike benyer èngon ku gantang, narue gere ne kite setai, kul kucaké gere né si dokopi, buetni nge agih-agihe.
Wan murip ni baréksana buet, awale turah berpemulon, ahirépé turah kasé berpenampongan, naru tali sara punceé, sara ralik sara ujung iurumen menjadi sara. Oya tamsil sara enti kite lupen. Enti sara kité ku mata nilao, wan telbong enti sawah murip kelah, wan jumpun enti ara mu pulo, wan cing enti ara mu kilo. Geh kasé rahmat apabile kite sara peden, geh kasé laknat apabile kite mupecah ataw mudewe.
Boh mi oya selapis kami sawahen ku kite ken amat-amaten, ken tikon remalan, ken suluh sediken gelap. Kemuduk nonya keta gelah kite tujun mi bang ling ni ku ipak ni.
Anakku, anak ni kami, pengènko mulo ling ni kami si tetueni, warus mu iwajiben, ringen mu iberaten, oya nume geli aténi kami ken ko. Gere ko kami tulak urum serde tulak, gere kami senawat urum kayu luis anakku, enti kasé gere ibetihko oya sunah ni nabinte ari pudahami, wajib ukumé.
Konot mu nge bernaru, kucak mu nge berkaul, ara nge si araé kami ku beden tubuhmu, baik akal urum kekire, walaupun beta anakku, kami sawahen miyen kesah alus ni kami, buge enti kasé luput urum lupen ipakko.
Murip ikanung edet anakku, maté ikanung bumi, murip turah benar, maté turah suci. Ling mu anakku king mutentu, ke narue gere lepas tersipeti. Ling ni kami ni pé gelah jeroh ipejamuriko, ari kemokotné kasé makin ibetih ko sana de hakiket urum hakikié.
Boh mi kati mu terang kami sawahen tikik kin tujun ni ling ni. Murip ikanung edet anakku oya peger ni Agama. Becerak ko kasé anakku enti sawah bubak, berperi enti sergak. Boh lagu ling ni kami sine, bercerak kō gelah lagu santan mulimak i bibirmu, lagu tikel berbunge i delahmu.
Remalan kō kasé enti begerdak, mujurah enti munyintak, atému turah mumin, tanganmu gelah murah, salak enti osah kerut, budi pekerti turah belangi. Si tetue imelien, kekanak isayangi, si nyanya ike ara rejekimu, gere delé tikik itulungko bantu ko anakku.
Terjah empah, tangak tonga, keliling juge, kahar kaharullah, buh tikik pé enti ara iko, kena oya sipeté kemali ipak, sumang si opat ijauhi ari kite anakku. Sikatan sumang pecerakan si kite peri buh enti sawah jin urum setan singah, si kami sawahni berseseren ku agamante.
Sarami siturah ingetiko, kune ko munedepi kami, beta kasé iedepiko ari ume si depetiko, sipet ni si tunging buyung, dedawan lipet sikipes bayur, si mirah mata enti sawah ara iko anakku, kéna oya kemali pedi ipak. Ke turah lemut berturut payu, cerak turah berpingang, peri si turah itudun.
Tene ni buet anakku, ko rerowanmu turah sebegi seperangen, temas urum-urum, temas nyanya bersitunungen, bersipengèn bersiejeren, selangkan ara kené tetue, ike até murai até, ungké pé rasa gulé, ike até gere murai até, bawal pé disné lagu bangké, tekedir muterkuk kuren urum senuk. Enti sawah kalang pepot mujadi rara, kètol rok mujadi nege.
Anakku, si lime waktu si katan wajib porapé enti taring. Oya tiang ni agama. Rukun Islam, rukun Imen oya ken amat-amaten, oya isi ni kitep sucinte. Alhamdulillah anakku kami suntuk mudoan mu buge mujadi anak si mutuah, anak amal saleh ni kami. Ike itunung kō kasé ling ni kami ni insa Allah langit mu gere mu gegur, bumimu gere muguncang.
Enti juh pikirenmu, enti awang ken kekiremu, segermi kami sawahen wan batin alus ni kami, kami mudoane, panyang mi umurmu, mudahmi rejekimu, enti ara si mulintang sana si buetko, Tengku si munyerahen ko ne ku kami, selangkah ni se, selangkah ni kami, pulih mi zat mu, pulih sipet pulih nyawa, pulih tubuh, pulih segele anggota, kur…semangatmu anakku.
Oya le we si lepas kami sisun ku ko anakku, ingetiko kasé seseger kami anakku, enti sawah ko kasé lupen kén blang pediangen urum denget ni pintu ipak anakku.
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Read More …

SUKU GAYO adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo. Suku Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah (25%), Bener Meriah (25%), Gayo Lues (25%). menurut seorang ahli geologi asal bali yang melakukan penelitian di aceh tengah suku gayo merupakan suku primitif. Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya. Suku Gayo menggunakan bahasa yang disebut bahasa Gayo.

Sejarah

Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya "Gajah Putih" yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.
Raja Lingga I, disebutkan mempunyai 4 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Djohan Syah) dan Meurah Lingga(Malamsyah).
Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.
Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge, Aceh Tengah. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.
Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

Dinasti Lingga

1. Adi Genali Raja Lingga I di Gayo
2. Raja Lingga II alias Marah Lingga di Gayo 3. Raja Lingga III-XII di Gayo 4. Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.
Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era 1. Raja Sendi Sibayak Lingga. (Pilihan Belanda) 2. Raja Kalilong Sibayak Lingga

Sistem pemerintahan

Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari:
            • Reje
            • Petue
            • Imem
            • Rayat
Pada masa sekarang beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat.
Sebuah kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok klen (belah). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal, dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap).
Kelompok kekerabatan terkecil disebut saraine (keluarga inti). Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur. Pada masa lalu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara umah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satu belah (klen). Pada masa sekarang banyak keluarga inti yang mendiami rumah sendiri. Pada masa lalu orang Gayo terutama mengembangkan matapencaharian bertani di sawah dan beternak, dengan adat istiadat matapencaharian yang rumit. Selain itu ada penduduk yang berkebun, menangkap ikan, dan meramu hasil hutan. Mereka juga mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam, dan menenun. Kini matapencaharian yang dominan adalah berkebun, terutama tanaman kopi. Kerajinan membuat keramik dan anyaman pernah terancam punah, namun dengan dijadikannya daerah ini sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Aceh, kerajinan keramik mulai dikembangkan lagi. Kerajinan lain yang juga banyak mendapat perhatian adalah kerajinan membuat sulaman kerawang dengan motif yang khas.

Seni Budaya

Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tari saman dan seni bertutur yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian Seperti: Tari bines, Tari Guel, Tari munalu,sebuku(pepongoten),guru didong, dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa, Karena Orang Gayo kaya akan seni budaya.

Dalam seluruh segi kehidupan, orang Gayo memiliki dan membudayakan sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan. Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat Gayo.

SUKU GAYO adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo. Suku Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah (25%), Bener Meriah (25%), Gayo Lues (25%). menurut seorang ahli geologi asal bali yang melakukan penelitian di aceh tengah suku gayo merupakan suku primitif. Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya. Suku Gayo menggunakan bahasa yang disebut bahasa Gayo.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Read More …